Mengenal Golden Rice, Produk Hasil Rekayasa Genetika (GMO)

Daftar isi: [Tampil]
Malnutrisi merupakan salah satu masalah yang kerap terjadi di dunia, terutama di beberapa negara berkembang. Beberapa akibat dari malnutrisi adalah penyakit mata dan kulit, penyakit­penyakit yang menyerang imunitas tubuh, sistem reproduksi, defisiensi tubuh, hingga pada kematian.

Menurut data ​World Health Organization (WHO), sebanyak 190 juta anak­anak menderita malnutrisi, khususnya defisiensi vitamin A. Kasus ini menuntut para ahli gizi untuk dapat mengembangkan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan seseorang akan vitamin A.

Mengenal golden rice (ilustrasi semata)
Mengenal golden rice (ilustrasi semata)

Dunia bioteknologi telah mengembangkan sebuah solusi dari permasalahan di atas dengan cara melakukan rekayasa genetika pada bahan makanan. Dengan demikian, ​golden rice ​atau nasi emas
hadir untuk memenuhi kebutuhan vitamin A bagi masyarakat.

Golden Rice atau nasi yang berwarna keemasan merupakan produk hasil rekayasa genetika dengan keunggulan memiliki kandungan β­ karoten yang tinggi. Kandungan tersebut dapat dikonversi menjadi vitamin A dalam metabolisme tubuh. Telah diteliti bahwa bulir padi dapat direkayasa secara genetika untuk mengoptimalkan komposisi nutrisi di dalamnya. Gen β­ karoten yang berasal dari tanaman dapat disisipkan ke dalam DNA bulir padi, sehingga warna nasi tersebut keemasan. Artinya,
terdapat ekspresi gen di dalam bulir padi tersebut yang mengindikasikan kandungan β­ karoten yang tinggi.

Teknologi ​Golden Rice ​didasarkan pada prinsip dasar bahwa tanaman padi memiliki kemampuan untuk mensintesis β­carotene, dan ketika kemampuan tersebut aktif secara penuh pada organ daun maka sebagian kemampuan tersebut menjadi tidak aktif pada organ biji. Dengan menyusupkan 2 gen ke dalam genom tanaman padi berupa psy (​plant phytoene synthase​) dan crt I (​bacterial phytoene desaturase​) maka jalur sintesis β­carotene dapat diaktifkan kembali dan β­carotene dapat terakumulasi
pada bagian biji.

Sejarah perkembangan ​Golden Rice dimulai pada tahun 1984 dimana ide pengembangan beras kaya akan beta karoten dicanangkan pada suatu konferensi pangan di Filipina. Pada tahun 1999, generasi pertama ​Golden Rice berhasil diproduksi dan setahun kemudian, tahun 2000, dibuatlah paten untuk ​Golden Rice ​pada dokumen WO2000/053768 dan diumumkan bahwa nasi hasil rekayasa genetika ini mampu menyelamatkan kehidupan satu juta anak di diunia.

Tahun 2004, ​Golden Rice ​generasi kedua berhasil diproduksi dengan konsentrasi karoten yang lebih tinggi dan patennya pun diperbarui. Uji eksperimen dilakukan pada tahun 2009 untuk mengetahui apakah karoten dapat diserap oleh tubuh dan dilakukan konferensi di Vatikan dimana perwakilan proyek ​Golden Rice ​melakukan pengajuan ​safety standard produk untuk penjualan tanaman hasil rekayasa genetik. Sampai tahun 2011, ​Golden Rice dipanen di Filipina dan penanaman komersial dimulai tahun 2013 di Filipina dan tahun 2017 di Bangladesh.

Produksi ​Golden Rice memicu adanya pro dan kontra dari masyarakat. Latar belakang masyarakat pro ​Golden Rice adalah timbulnya isu defisiensi vitamin A ehingga produksi ​Golden Rice menjadi alternatif solusi untuk memperoleh vitamin A dari produksi makanan pokok yaitu nasi.

Hal yang melatarbelakangi sikap kontra masyarakat terhadap ​Golden Rice adalah adanya tiga resiko besar dari produksi Golden Rice ​yaitu resiko terhadap metabolisme dari padi itu sendiri sebagai akibat terekspresikannya gen transformasi yang sebelumnya tidak ada di padi, resiko kesehatan yang perlu dilakukan uji coba terhadap toksisitas subkronik dan efek imunogenik, dan resiko lingkungan serta biodiversitas.

No comments

Powered by Blogger.