Pemanfaatan Energi Biomassa, Konsep Ketahanan Energi Terbarukan di Indonesia

Daftar isi: [Tampil]
Bicara masalah energi, seakan kita bicara isu abadi yang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik. Hal ini dikarenakan, setiap sendi kehidupan kita tidak akan lepas dari kebutuhan energi, konsumsi energi adalah syarat mutlak semua makhluk hidup di muka bumi, contoh sederhana adalah ketika kita makan, disadari atau tidak, itu adalah cara manusia mengkonsumsi energi yang nantinya digunakan untuk beraktivitas. Tidak hanya itu, proses transformasi energi yang selalu diidentikkan dengan turbin, mesin, serta alat elektronik, menjadikan kita lupa, bahwa munculnya padi, buah-buahan, dan kacang-kacangan dari suatu tanaman juga merupakan hasil dari konversi energi, dalam hal ini, tanaman yang melakukan konversi dan menyimpan energi matahari ke dalam bentuk hidrokarbon yang dapat dikonsumsi oleh manusia.

biomassa sebagai sumber energi terbarukan di masa depan
biomassa sebagai sumber energi terbarukan di masa depan

Sudut pandang dalam memahami energi sebagai suatu komoditas yang sangat sempit praktis harus diperbaiki, sehingga ketika bicara masalah ketahanan energi, fokus kita tidak lagi hanya terbatas bicara mengenai minyak bumi, batubara, dan potensi panas bumi. Tidak stabilnya harga minyak dunia, semakin menipisnya cadangan migas dalam negeri, serta tingginya emisi karbon dari mayoritas industri penghasil energi menjadi alasan kuat bahwa pemerintah kita harus mendesain ulang konsep ketahanan energi di masa yang akan datang dengan tidak bergantung pada sumber energi yang tidak terbarukan. Kekayaan alam Indonesia terutama dalam hal produksi biomassa tanaman, seharusnya bisa menjadi jawaban solutif atas isu ketahanan energi. Setidaknya, ada beberapa solusi jangka panjang yang bisa dilakukan dalam rangka membangun ketahanan energi Indonesia di masa depan dengan memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi terbarukan.

Pertama, pola pikir masyarakat dan pemerintah terkait sumber energi harus diubah, generasi muda kita harus mulai dikenalkan dengan energi alternatif yang ramah lingkungan serta berasal dari sumber daya terbarukan. Penelitian yang fokus pada energi alternatif berbasis biomassa sudah banyak yang berhasil dilakukan, diantaranya bioetanol hasil dari proses fermentasi sukrosa, produksi biofuel dari mikroalga, hingga produksi biogas dari limbah organik dalam bentuk metana atau gas biohidrogen. Dikembangkannya teknologi energi berbasis biomassa selain menjamin ketersediaan sumberdaya yang sangat melimpah untuk wilayah Indonesia, juga akan mengurangi permasalahan emisi karbon serta polusi udara dikarenakan hasil pembakaran energi berbasis biomassa yang relatif lebih rendah dibanding energi dari bahan bakar tidak terbarukan. Oleh karena itu, penelitian serta pengenalan energi berbasis biomassa sangat penting dilakukan mengingat potensi jangka panjangnya yang sangat menjanjikan.

Kedua, dengan mengandalkan biomassa sebagai sumber energi alternatif, sangat memungkinkan pemerintah daerah untuk membangun instalasi pembangkit energi yang tersebar merata hingga daerah pedalaman. Pasalnya, jika setiap daerah di Indonesia hanya mengandalkan suplai energi dari pemerintah pusat seperti yang terjadi saat ini, alokasi ke setiap daerah bisa jadi tidak merata dan sangat mungin terjadi kelangkaan pada saat-saat tertentu. Selain itu, biaya distribusi energi dalam bentuk BBM dari pertamina, untuk sampai ke tangan konsumen khususnya di daerah terpencil sangatlah tinggi, fakta tahun 2014, harga bensin jenis premium di daerah Kalimantan bisa menyentuh angka Rp15.000, terlebih lagi jika kita bicara untuk wilayah Papua yang bisa mencapai kisaran harga Rp35.000-Rp50.000 untuk setiap liternya (sumber: kompas.com).

Adanya konsep lokalisasi produksi energi berbasis biomassa ini tentu akan menyelesaikan permasalahan energi hingga daerah pedalaman di Indonesia, Papua dengan buah merah dan kemiri sunan yang melimpah, seharusnya dapat memproduksi biodiesel yang cukup dari kedua komoditas tersebut untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar disana. Daerah Kalimantan yang terkenal dengan industri kelapa sawit, limbah cair hasil dari pengolahan kelapa sawit atau yang lebih dikenal dengan sebutan POME (Palm Oil Mill Effluent), bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas dalam bentuk metana yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar, biokonversi ini sekaligus merupakan bentuk penanggulangan limbah POME yang tersedia dalam jumlah besar di Kalimantan akibat menjamurnya industri kelapa sawit di sana.

Di daerah perkotaan, lokalisasi produksi bahan bakar berbasis biomassa juga dapat dilakukan, contoh nyata yang sudah berjalan sampai tahap produksi adalah Alphabiofuel, sebuah NGO (Non-Government Organization) di Singapura yang bergerak dalam bidang biorefinery, mengklaim dapat memproduksi biodiesel dari limbah minyak goreng rumah tangga hanya dengan biaya setara 3-5 ribu rupiah perliter (sumber: alphabiofuels.org). Berbagai fakta di atas tentu memperkuat alasan bahwa sumber energi kita di masa yang akan datang tidak lagi harus bergantung pada produk tambang yang memiliki cadangan terbatas, namun sudah berbasis pemanfaatan kekayaan biomassa dari satu daerah tertentu bahkan tidak menutup kemungkinan memanfaatkan limbah biomassa yang terdapat disana.

Ketiga, konsep ketahanan energi berbasis biomassa ini tentu membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah pusat, Permenkeu No 62/PMK.011/2010 mengenai tarif cukai etil alkohol merupakan salah satu contoh kebijakan yang akan menghambat pengembangan energi alternatif berbasis biomassa karena cukup memberatkan pihak industri yang memproduksi etanol sebagai energi alternatif, belum lagi tingginya resiko dalam mengembangkan energi alternatif berbasis biomassa yang membuat pihak investor berpikir ulang jika ingin mendirikan industri semacam ini. Tutupnya pabrik bioetanol dengan kapasitas produksi 180 ribu liter perhari di Lampung baru-baru ini dikarenakan kurangnya suplai bahan baku, adalah salah satu contoh masih rentannya industri energi berbasis biomassa, oleh karena itu, sokongan dari pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan ataupun bantuan dana sangatlah dibutuhkan, sehingga isu energi alternatif dengan bahan bakar nabati ini mendapat dukungan penuh baik dari pihak industri maupun masyarakat setempat.

Sebagai penutup, peran penting biomassa sebagai sumber energi di massa depan seharusnya dapat merubah mindset masyarakat kita dalam memandang kekayaan alam Indonesia, betapa potensi terbesar dari negeri ini bukan dari kandungan migas ataupun mineral yang ada, melainkan kekayaan  negara kita sejatinya terletak pada kelimpahan dan kemudahan dalam menghasilkan biomassa. Bicara mengenai energi alternatif berbasis biomassa, tentu tidak hanya terbatas pada biomassa dari produk tanaman tertentu, bahkan dengan pengembangan teknologi Fischer–Tropsch baru-baru ini, selulosa dari rumput sekalipun sudah dapat dikonversi menjadi sumber energi, belum lagi jika kita bicara potensi biodiesel dari mikroalga yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan garis pantai di sepanjang kepulauan Indonesia sebagai lahan industri, betapa Indonesia sudah sangat terbuka peluangnya dalam membangun ketahanan energi berbasis biomassa. Selanjutnya, tinggal bagaimana pemerintah kita secara serius mengajak berbagai elemen mulai dari institusi pendidikan, investor, hingga BUMN untuk turut serta membangun ketahanan energi dalam negeri menggunakan kekayaan alam khususnya biomassa di bumi Indonesia.

No comments

Powered by Blogger.