Tips Sukses Akademik untuk Pelajar (Academic Self-Management)

Daftar isi: [Tampil]

Pengertian

Tujuan dari dunia pendidikan adalah menghasilkan orang-orang yang mampu untuk mengedukasi diri sendiri, sehingga pelajar harus mampu untuk mengatur hidup sendiri, mengatur tujuan, dan menyediakan penguat untuk diri sendiri. Kehidupan yang penuh dengan tugas-tugas menuntut dibutuhkannya kemampuan untuk melakukan self-management (Kanfer & Gaelick dalam Woolfolk, 2004). Menurut Kanar (2011), self-management adalah kualitas personal dari disiplin diri atau kontrol diri. Orang-orang yang memanajemen diri dengan baik adalah orang-orang yang dapat memotivasi diri sendiri.

Tips sukses secara akademis
Tips sukses secara akademis

Menurut Dembo (2004), academic self-management adalah strategi-strategi yang digunakan pelajar-pelajar untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, yang meliputi strategi perilaku (manajemen waktu dan pengaturan lingkungan fisik dan sosial), strategi motivasi (menyusun tujuan dan meregulasi emosi dan usaha), dan strategi belajar cara belajar (belajar dari buku bacaan, belajar dari dosen, mempersiapkan diri untuk ujian, dan menjalani ujian).

Dapat disimpulkan bahwa academic self-management adalah strategi yang digunakan oleh pelajar secara sadar dan didasarkan atas rasa tanggung jawab, baik dalam perilaku tampak maupun tidak tampak, untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajarnya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi academic self-management (Dembo, 2004) adalah:

a) Faktor personal dan sosiokultural

Faktor personal meliputi bagaimana pola belajar di tingkat pendidikan menengah atas dapat dibawa sampai masa kuliah, dan hal ini dapat mempengaruhi bagaimana motivasi, perilaku, dan kelangsungan studi pelajar (Dembo, 2004). Faktor sosiokultural seperti level sosioekonomi, tingkat pendidikan orang tua, dan harapan orang tua dapat mempengaruhi motivasi dan perilaku pelajar, sebagai contoh : pelajar-pelajar yang merupakan generasi pertama dan etnis minoritas memiliki waktu yang sulit untuk menyesuaikan diri di masa kuliah daripada pelajar generasi kedua atau ketiga (Ratcliff dalam Dembo, 2004).

Sebuah fenomena menarik dari faktor ini adalah ancaman stereotype yang biasanya dialami oleh kelompok minoritas. Ancaman stereotype (Claude Steele (1999) dan Aronson (2002) dalam Dembo, 2004) adalah ketakutan akan melakukan sesuatu, yang secara tidak sengaja akan mengkonfirmasikan sebuah stereotype. Aronson (2002) mengatakan bahwa ancaman stereotype dapat membuat pelajar berusaha lebih keras karena pelajar ingin membuktikan bahwa stereotype itu tidak tepat. Pelajar yang lebih mudah terkena ancaman stereotype biasanya peduli untuk melakukan yang terbaik, memiliki sense of attachment terhadap kelompok gender atau etnis, memiliki harapan yang tinggi akan terjadinya diskriminasi di lingkungan, dan menganggap intelegensi adalah sesuatu yang stabil.

b) Faktor lingkungan kelas

Faktor di lingkungan kelas meliputi tugas yang diberikan (kuis dan tugas singkat (short assignment)), perilaku instruktur (dukungan yang diberikan kepada mahasiswa), dan metode instruksional (pembentukan kelompok belajar di dalam kelas baik sesama etnis atau dengan etnis lain, tutor) akan mempengaruhi bagaimana perilaku pelajar di dalam kelas. Bukan hanya lingkungan kelas yang mempengaruhi motivasi pelajar, melainkan tanggung jawab pelajar terhadap diri sendiri juga penting (Dembo, 2004).

c) Faktor internal

Faktor internal meliputi tujuan, kepercayaan, perasaan dan persepsi pelajar; yang akan berpengaruh terhadap motivasi di dalam melakukan academic self-management, misalnya jika pelajar menghargai sebuah tugas dan menganggap pelajar dapat menguasainya, maka pelajar cenderung menggunakan strategi belajar yang berbeda, berusaha lebih keras, dan bertahan sampai tugas terselesaikan (Dembo, 2004). Faktor internal terbagi atas:

Tujuan

Tujuan dapat mempengaruhi motivasi dalam 5 cara yaitu:

  • a) Usaha : semakin sulit tujuan yang disusun, semakin kuat usaha yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
  • b) Durasi atau keteguhan : durasi mempengaruhi konsentrasi pelajar untuk tidak mudah terdistraksi, terinterupsi dan berhenti bekerja ketika tugas belum selesai.
  • c) Arah untuk atensi : tujuan mengarahkan perhatian pelajar kepada tugas yang ada dan menjauhkan pelajar dari tugas yang tidak penting
  • d) Perencanaan strategi : menyusun tujuan akan memotivasi pelajar dalam merencanakan strategi, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi bagaimana pelajar akan bertindak.
  • e) Reference point : merupakan titik evaluasi dimana pelajar akan melakukan evaluasi terhadap performansi dengan cara membandingkan tujuan yang disusun di awal dengan feedback dari performansi. Kepuasan pelajar terhadap hasil evaluasi akan berpengaruh terhadap motivasinya.

Kepercayaan

Salah satu bentuk kepercayaan yaitu self-efficacy. Self-efficacy merupakan prediktor yang akurat dari motivasi pelajar dan perilaku self-managed (Schunk, 1991). Pelajar dengan self-efficacy yang tinggi akan memilih tugas yang lebih sulit, mengeluarkan usaha yang lebih, tidak mudah menyerah, menggunakan strategi belajar yang lebih kompleks, dan mengalami kecemasan yang lebih sedikit terhadap tugas akademik. Semakin tepat persepsi pelajar mengenai self-efficacy, semakin besar kemungkinan penggunaan informasi mengenai persepsi tersebut untuk membuat perubahan di dalam strategi belajar.

Perasaan

Salah satu bentuk perasaan yang akan mempengaruhi pelajar dalam melakukan academic self-management adalah self-worth. Self-worth (Covington, 1992) adalah penilaian evaluatif individu terhadap dirinya sendiri. Menurut Covington (1992), pelajar mempelajari kalau masyarakat menghargai seseorang karena pencapaian yang dibuatnya. Jika pelajar tidak berhasil dalam melaksanakan tugas, maka feedback yang diterimanya berupa kurangnya kemampuan pelajar, munculnya perasaan tidak berharga dan penolakan terhadap diri sendiri.

Sebagai akibatnya, ketika pelajar dihadapkan dengan kemungkinan ketidakberhasilan, pelajar akan menghindari situasi atau mengembangkan strategi untuk melindungi diri dari kesimpulan yang menyatakan kalau kemampuan pelajar tidak baik (yang dapat mengancam self-worth), misalnya : membuat tujuan yang tidak realistis (Covington, 1992).

No comments

Powered by Blogger.