Masjid Bawah Tanah Sumur Gumuling di Jogja dan Sejarahnya

Daftar isi: [Tampil]
Wisata religi merupakan salah satu hal yang bisa kita lakukan saat berkunjung ke Jogjakarta. Sebagai daerah istimewa, tentunya warisan sejarah agama di kota gudeg pun cukup kaya.

Salah satunya adalah Sumur Gumuling, sebuah situs bersejarah yang kental dengan budaya bernafaskan Islam. Sumur Gumuling berada di kompleks Taman Sari, sebuah kawasan wisata di Jogjakarta yang menyimpan sejuta sejarah.

Sumur Gumuling, Warisan Sejarah Islam

Sebelum membahas tentang Sumur Gumuling, kita akan mengenal Taman Sari terlebih dahulu. Kawasan Taman Sari didirikan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono pertama di tahun 1758, yang juga merupakan pendiri keraton Yogyakarta.
wisata sumur gmuling bawah tanah
Wisata sumur gumuling bawah tanah

Taman Sari memang merupakan sebuah taman istana, dengan area hijau yang cukup luas. Namun yang paling menarik adalah kolam pemandian yang pada jaman dahulu digunakan oleh para raja dan keluarga keraton, terutama permaisuri. Lokasi taman ini yang hening pun sering dijadikan tempat mengasingkan diri para petinggi kerajaan, ketika sedang dilanda kegundahan.

Pada tahun 1876, gempa hebat pernah melanda Jogjakarta, dan meruntuhkan Taman Sari. Beruntung, beberapa bagian masih bisa diselamatkan dan dipugar sehingga bisa kita nikmati saat ini.

Nah, di balik pesona Taman Sari, sang raja Jogja pada masa itu pun membuat sejumlah lorong berliku yang kita kenal dengan labirin. Lorong tersebut terus menggali jalan ke bawah tanah. Lorong-lorong tersebut akan menyatu di sebuah titik pusat.

Tempat itulah yang dikenal dengan nama Sumur Gumuling. Jika diartikan, gumuling adalah bahasa Jawa kuno yang bermakna melingkar atau memutar. Di tengahnya, terdapat sebuah sumur, maka sah lah tempat ini dinamakan Sumur Gumuling.

Tempat khidmat di perut bumi tersebut menggunakan desain arsitektur teatrikal bergaya Portugis kuno. Terlihat dari bentuknya yang seperti mangkok tebalik lengkap dengan rongga di bagian kubahnya. Sri Sultan pertama memang dikenal sebagai penyuka seni sejati.

Pada jaman penjajahan Belanda, segala aktivitas ibadah umat Islam sangat dilarang. Itu sebabnya Sumur Gumuling ini dibangun guna mengelabui para penjajah, supaya mereka tidak mengetahui aktivitas keagamaan tetap dilakukan.

Dari Taman Sari, terdapat banyak pintu dengan lorong berliku. Salah satu lorong bahkan diyakini cukup panjang hingga mencapai Parangtritis. Namun, hanya satu pintu saja yang menuju ke Sumur Gumuling.

Filosofi satu pintu itu pun sangat menarik, yang bisa dimaknai sebagai manusia tercipta dari bahan tanah dan akan kembali ke wujud semula yakni tanah ketika ajal menjemput.

Titik tengah lorong-lorong di bawah tanah Sumur Gumuling tersebut menjadi tempat syiar agama Islam dilakukan. Titik tersebut dijadikan sebagai mimbar ketika penceramah menyampaikan ajaran Islam. Sementara, raja dan keluarga biasa melakukan shalat dan mendengarkan ceramah di lorong-lorong yang ada.

Desain 'masjid' Sumur Gumuling ini sangat menakjubkan. Bentuknya melingkar seperti kubah. Desain arsitektur kuno tersebut ternyata memiliki nilai akustik yang sangat baik. Entah bagaimana, gelombang suara bisa beresonansi sempurna di titik pusat labirin, sehingga para jamaah bisa mendengar ceramah, tanpa pengeras suara sekali pun.

Susunan 5 buah rangkaian tangga yang berpusat di mimbar tersebut memiliki makna 5 rukun yang ada di agama Islam. Yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan menunaikan haji.

Di bawah susunan tangga tersebut, tersapat sebuah kolam alias sumur. Hal ini lagi-lagi mengacu pada kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur'an. Dijelaskan pada surat An-Nisa ayat ke-14 dan juga surat Al-Fath ayat ke-17 bahwa  surga memiliki sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.

Nah, sumur di dalam masjid Sumur Gumuling pun merupakan aliran dari sungai Gajah Wong dan Winongo yang dibendung kemudian dialirkan ke kompleks Taman Sari, termasuk ke area masjid bawah tanah tersebut.

Saat masih digunakan sebagai rumah ibadah, masjid purba ini memiliki 2 lantai untuk digunakan para jamaah. Lantai bawah, dikhususkan bagi jamaah wanita. Sedangkan jamaah pria menempati area di lantai atas.

Kini, tak ada lagi aktivitas keagamaan di Sumur Gumuling. Tempat megah tersebut disulap menjadi kawasan wisata religi yang selalu ramai dikunjungi, terutama pada hari-hari besar Agama Islam.
Untuk bisa mencapai Sumur Gumuling, caranya sangat mudah. Kawasan Taman Sari berada tak jauh dari pusat kota, tepatnya di wilayah keraton, sekitar 300 meter ke arah barat keraton.

Kawasan wisata religi bernuansa Islami ini bisa dikunjungi setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga pukul 2 siang. Harga tiket masuk pun sangat terjangkau, hanya sekitar Rp 5000 saja. Dengan tiket tersebut, Anda bisa menjelajahi semua bagian istana air Taman Sari, termasuk Sumur Gumuling.

Hal yang perlu diperhatikan saat mengunjungi destinasi liburan Jogja ini adalah aturan berbusana. Mengingat kawasan ini kental dengan nuansa Islam, sebaiknya Anda mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup. Perhatikan juga alas kaki yang Anda pakai, pastikan tidak licin. Sebab kawasan ini cukup lembab dan ada bagian yang berpasir.

Untuk kegiatan foto ria, sebetulnya tidak ada aturan khusus, apalagi jika hanya berfoto menggunakan kamera ponsel. Namun, jika menggunakan kamera profesional, Anda terlebih dahulu harus ijin atau melapor kepada pengelola. Tujuannya lebih kepada menginformasikan latar belakang kegiatan fotografi. Jika bersifat komersil, maka akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan.
Tertarik mengunjungi Sumur Gumuling?

No comments

Powered by Blogger.